LEBIH DARI SEKEDAR ENERGI
Suatu ketika Adrie Subono bertanya kepada saya, “Apakah sudah pantas saya menulis buku?” Saya pun langsung memberi jawaban, “Anda bukan saja pantas dan layak, tetapi lebih dari itu.” Bung Adrie lalu memikirkannya, sampai suatu ketika ia menyatakan kebulatannya.
Untuk menulis buku ini, Adrie, seperti yang saya kenal, tidak mau tanggung-tanggung. Ia memilih penulis yang terbaik, menceritakan semua hal tentang bisnis ini, bahkan penulisnya pun dikonsentrasikan beberapa waktu agar tidak terganggu oleh pikiran-pikiran lain. Di tengah-tengah penulisan buku itu Adrie memanggil anak buahnya. Pesannya sangat jelas. “Buka semua pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki,” ujarnya.
Bagi saya, ini jelas sebuah penghormatan terhadap pengetahuan, yaitu bidang yang selama bertahun-tahun saya geluti. Membuka diri. Mencatat dengan detail terhadap semua pengetahuan yang kita miliki, yang terakumulasi dalam diri kita masing-masing, lalu membaginya dengan pembaca adalah penghormatan terhadap peradaban manusia, yang terus berkembang dan bergelut dengan persoalannya sehari-hari.
Adrie sungguh beruntung. Ia mendapat anugerah itu dari Yang Maha Kuasa untuk mengeksplorasi dunia entertainment sedalam-dalamnya. Ia memulainya dengan susah payah, mencarinya dengan energi besar yang melekat dalam dirinya. Ia bangun sebuah tim yang mencatat every single detail dari proses memilih artis, merekam gejolak keinginan pasar, mengundang celebrities kelas dunia, menggabungkan mereka dengan musisi lokal, meyakinkan mereka terhadap keamanan pelaksanaan, memenuhi pembayaran, mengurus perizinan, mengkemas acara, menyiapkan teknologi dan pemasarannya, sampai melepas mereka kembali di airport .
Sebuah bisnis yang kelihatannya glamour , tapi sesungguhnya penuh dengan risiko. Kaya dengan banyak detail, dan menuntut kesempurnaan kerja dan ketajaman mata. Maka, meski untungnya kelihatan sangat menggiurkan, tidak banyak orang sanggup dan berani memasuki bidang bisnis ini.
Padahal, para ahli pemasaran sudah lama menunjukkan bahwa pasar entertainment sedang mengalami revolusi pertumbuhan yang luar biasa. Meminjam istilah John Grant, kita tengah memasuki era after image. Di era ini, pasar menghendaki adanya hubungan interaktif dari sekedar hubungan mata yang biasa dilihat di majalah atau televisi.
Hubungan interaktif itu diungkapan secara ekspresif, live, experiential , dan emotional . Mereka ingin masuk dalam sebuah komunitas yang lepas, melihat bintang-bintang pujaan mereka secara lebih dekat, bahkan beryanyi bersama, dan bila mungkin bersalaman dan memotretnya bersama.
Kata John Grant, manusia zaman sekarang bukan cuma ingin meng- habiskan waktu hidupnya hanya untuk bekerja saja, melainkan tiga hal sekaligus yaitu: work, leisure, learning . Itu pun harus entertaining, fun, dan penuh kemerdekaan.
Jadi, sesungguhnya, kebutuhan terhadap entertainment sudah ada dalam masyarakat itu. Dan dalam era “after Image” , kebutuhan itu menggumpal menjadi sebuah bola yang terus menggelinding dan terus membesar. Peluangnya begitu besar, tetapi untuk menangkapnya tidak mudah. Salah-salah bisa tergelincir dan masuk dalam gulungan bola salju itu.
Adrie Subono adalah sedikit dari orang Indonesia yang mampu menangkap bola salju itu. Ia dengan JAVA Musikindo-nya memang bukan yang pertama mendatangkan artis luar negeri. Tapi boleh dikata, ialah yang pertama, yang dengan sungguh-sungguh menerapkan konsep manajemen secara berkesinambungan dan konsisten dalam dunia hiburan. Mungkin ia juga orang pertama yang menjadikan perusahaannya sebagai sebuah knowledge atau learning company yang membiarkan agar orang lain bisa mempelajari sekaligus mengambil manfaat darinya.
Terhadap perilaku yang begitu terbuka ini, tentu saja saya sering mendapat pertanyaan: apakah ini tidak berbahaya dan merugikan bisnisnya? Bukankah dengan membuka diri artinya membuat orang lain memung- kinkan mencuri keunggulan yang kita miliki?
Pendapat ini tentu saja keliru. Terhadap sebuah karya yang sifatnya intangible , dibutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mengadopsinya. Adopsi seperti ini biasanya baru akan terjadi satu generasi ke depan, yang dilakukan oleh anak-anak yang hari ini belajar dari nol dan memupuk kemahirannya lewat proses apprentice (magang) yang panjang.
Kedua, dengan akumulasi pengetahuan yang demikian panjang, seorang imitator tidak akan dengan sendirinya mampu membuat yang sama persis atau bahkan lebih baik dari yang ia contoh. Artinya, tidak ada jalan pintas dalam bisnis.
Ketiga, melihat dapur orang lain tidak dengan serta-merta membuat kita jadi mampu membuat masakan yang sama. Masakan jadi bukanlah semata-mata fungsi dari sebuah resep belaka, melainkan fungsi hati, pikiran, visi, pelaksana, kepemimpinan, intuisi, dan tentu saja: tangan Tuhan.
Jadi, membuka diri tidaklah membuat Adrie akan berkurang, melainkan justru membuat dirinya berkelimpahan.
Buku ini akan membuatnya lebih berefleksi dan melihat bisnis ini ke depan lebih baik. Tetapi sekaligus memberikan pengetahuan pada anak-anak muda berbakat yang menginginkan sebuah revolusi hiburan di masa depan.
Sekarang, izinkanlah saya menilai sebuah perjalanan yang ditempuh sahabat saya ini. Perjalanan itu dinilai dari sebuah gejolak emosi yang namanya kecintaan. Adrie melakukan sesuatu yang sangat ia cintainya. Istrinya yang cantik, dan putri-putrinya yang cerdas tentu saja turut mem-berikan warna. Gabungan itu melahirkan energi yang luar biasa.
Adrie berulang kali mengatakan pada saya, “Wajah saya ini seperti ini. Suara saya keras. Tidak banyak orang yang berani mendekat begitu melihat saya. Di Jakarta Convention Center, begitu penonton akan masuk, saya sudah berdiri tegak di pintu masuk. Saya kelilingi setiap pintu. Mata saya jeli melihat setiap hal dengan detail. Saya tidak ingin kecolongan oleh hal-hal kecil. Tiket palsu, misalnya, atau petugas yang di pintu-pintu masuk yang seenaknya memasukkan teman-temannya tanpa tiket. Saya tidak akan memasukkan orang lebih dari yang memesan kursi. Orang datang untuk menikmati acara bukan untuk menghadapi ketidaksenangan-ketidaksenangan.”
T entu saja, ia tidak mengundang calo, tetapi baginya calo-calo tiket tidak boleh mengganggu, melainkan justru bisa membantu, khususnya tiket-tiket yang tidak jadi dipakai penonton yang berhalangan datang. Meski berwajah tegas, toh Adrie tidak menganggap calo-calo itu sebagai lawan, melainkan mitra kerja yang justru bisa saling membantu melancarkan mekanisme supply-demand.
Semua ini tentu saja tidak ada universitasnya. Sekolahnya ada di lapangan. Jadi karena ditekuni. Berhasil karena mau mahir. Saya sering mengatakan ‘’ do what you love ’’. Kerjakan karena kita mencintainya. Kecintaan ini melahirkan dorongan energi yang luar biasa. Energi itu kata industriwan Hendry Ford mewujud dalam bentuk antusiasme. “Dengan antusiasme”, katanya, “Anda bisa melakukan apa saja, termasuk melam- bungkan anda ke bintang-bintang. Tanpa antusiasme, tak akan ada cerita yang berbekas.”
Seperti orang-orang besar lainnya, Adrie tentu saja tidak dibekali dengan k esempurnaan. Meski harus bekerja keras, berjalan banyak, langkahnya sering terhambat oleh gejala asam uratnya. Asam urat, kalau sedang kumat. Aduh maak, sungguh sakit sekali. Kaki anda terutama betis ke bawah, akan terasa membengkak. Tapi gejala ini tidak menghalanginya untuk bekerja lebih keras.
Saya jadi teringat dengan ucapan John Maxwell, semua orang-orang yang berhasil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, yaitu energi dan self-discipline. Lihatlah betapa sulitnya masa kecil Franklin Delano Rossevelt yang menderita polio. Tapi Rossevelt mampu membuat Ame- rika keluar dari Malaise (krisis global) yang mahaberat pada tahun 1920- an. Ia bahkan satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang pernah menja- bat selama tiga periode. Tengok pula Stephen Hawkings yang lumpuh, bahkan berjalan dan menulis saja tidak bisa. Lihat pula Napoleon yang pendek, Edison yang dianggap bodoh, atau Julius Caesar yang menderita epilepsi. Adrie jadi bertanya, apakah artinya asam urat atau wajah yang k elihatan keras? Semua itu tak menghalanginya untuk berkarya.
Toh, asam uratnya ternyata justru menyelamatkan dirinya kala pecahan kaca bom Hotel Marriot merangsek ruang kerjanya, ia justru tertahan di toilet dan selamat.
Point saya adalah energi yang dibangkitkan oleh cinta bisa dipakai untuk karya-karya yang produktif asalkan dilengkapi dengan self discipline . Dari sini anda bisa belajar banyak dari tokoh ini.
Wajahnya memang sedikit angker, kalau bicara agak keras, tetapi sesungguhnya Adrie adalah pribadi yang sangat menyenangkan dan penuh kerendahan hati. Terhadap pribadi yang demikian, saya selalu menyatakan inilah pribadi yang mau belajar.
Baginya, setiap orang adalah mata air yang mengalirkan kebajikan dan pengetahuan.
Kalau orang tidak mengenalnya, melihatnya saja mungkin ia sudah menarik diri. Apalagi mendengarkan suaranya. Tetapi ia sesungguhnya sangat bersahabat, anda cukup menunggu 10 menit langsung dapat merasakan kehangatan persahabatan. Kata-katanya penuh makna, me- ngalir seribu pengetahuan dengan kerendahan hati.
Orang-orang terkenal, para pekerja keras yang berdisiplin dan mengenal betul pekerjaannya secara detail tentu saja bisa dipandang sebagai pribadi yang intimidatif. Kalau bekerja, mereka tidak sekedar menimba untung, melainkan menjalani proses itu secara detail dari titik ke titik.
Tetapi kalau manusia mau maju ia memang harus mau melakukan hal itu. Mereka yang belajar sebaiknya belajarlah pada yang terbaik. Orang- orang ini mungkin saja menjengkelkan dan membuat jantung kita terus berdebar-debar dan tangan dan kaki kita bergerak terus, tetapi di situlah kita belajar.
Menurut hemat saya, Adrie dapat saja dikategorikan sebagai pribadi dengan “ level 5 leadership ” seperti yang digambarkan oleh Jim Collins da-lam buku terkenalnya, Good to Great . Sebuah kepemimpinan yang bukan sekedar menghasilkan karya-karya berkualitas good , melainkan lebih tinggi lagi yaitu great . Syaratnya, pribadi itu harus memiliki dua hal sekaligus, yaitu professional will dan strategic humility (kerendahatian strategik).
Adrie adalah pribadi yang sangat correct , tetapi sangat berhati-hati dalam menilai orang lain. Kepada saya pun, kalau ada hal-hal penting yang akan disampaikan ia selalu memikirkannya dengan penuh kehati-hatian. Ia tak menyembunyikan pikiran-pikirannya seperti seorang politisi berwajah poker.
Bahasanya sangat jelas, tetapi sebelum menyampaikan hal-hal tertentu y ang dianggapnya sensitif, ia selalu meminta pendapat orang-orang lain termasuk keluarganya untuk menyampaikan hal tersebut. Sikap positif seperti ini banyak yang dapat dipelajari dari Adrie.
Sudah lama musik berkembang menjadi sebuah industri yang tumbuh begitu pesat. Industri ini melibatkan demikian banyak pihak, mulai pencipta lagu, penyanyi, pemusik, industri alat-alat musik, dapur rekaman, promotor, pemasar, penyalur, hingga pembuat video klip.
Bintang-bintang pun datang dan pergi mengikuti irama zaman. Kompetisi di antara bintang-bintang pop terjadi begitu keras, sehingga kalau tidak ditangani dengan baik, bintang-bintang itu dapat diibaratkan seperti bunga wijayakusuma, yang lama menahan kuncup, tapi begitu selesai berbunga tiga-empat jam di malam hari, esoknya sudah loyo dan harus segera disingkirkan, diganti oleh kuncup-kuncup yang baru.
Adrie menangkap gejala itu dan ia menyadari betul ada mata rantai yang terputus antar artis dengan pasarnya, tanpa peranan yang ditawarkannya.
Energi memang segala-galanya. Tapi Adrie mampu menyalurkan energinya secara pas dan apik. Musik memang memerlukan keapikan, kesempurnaan. Tidak cuma bunyinya saja yang harus sempurna, melainkan juga tata panggung, komunikasi, pemasaran, dan keamanannya. Ia dapat diibaratkan seorang kapten kesebelasan yang tidak bermain di lapangan, tetapi wajib berkeliling dari titik ke titik.
Kesempurnaan
peran memang sangat dibutuhkan, karena bisnis ini memiliki sejumlah keunikan,
yaitu:
1.Musik dan pertunjukan terkait dengan telinga cohort atau generasi y ang mengenalnya.
2. Kedatangan artis-artis asing mencerminkan kepercayaan mereka ter- hadap kemampuan
pelaksanaan dan persepsi terhadap keamanan di negeri ini.
3. Teknologinya tidak selalu tersedia di dalam negeri, oleh karena itu pengetahuan
tentang keberadaan dan kualitasnya sangat penting.
4. Pasar Indonesia beraksi “ on the last minute ”, yaitu baru membeli
tiket pada detik-detik terakhir.
5. Aksen dan kepercayaan pada jaringan pengadaan artis-artis global (para manajer,
promoter dan pemegang lisensi) tidak dapat ditumbuhkan dalam sekejab.
Dengan ciri-ciri yang demikian jelas dibutuhkan lebih dari sekedar energi untuk menggerakan bisnis ini.
Akhirnya saya sangat bersyukur dengan kehadiran buku ini. Sebuah buku yang sangat penting untuk dibaca, bukan hanya oleh para musisi dan mereka yang tertarik dengan bisnis hiburan ini, melainkan juga oleh kita semua untuk memahami sebuah panggilan manusia untuk meng- entertain dirinya. Semoga karya ini bisa memberi manfaat.
Selamat, Bung Adrie!
Dr.
Rhenald Kasali
Pakar Manajemen